Pedoman Pengaturan Keuangan untuk masa depan seorang Model.


Apa rencana anda dengan uang yang ada di tangan anda sekarang / uang yang anda terima setiap bulannya (Gaji). apa lagi saat ini anda berumur 23 – 30 tahun. Karena mereka yang berusia 23 – 30 tahun berada dalam kelompok usia yang penuh gejolak dan emosi. Saat memegang uang, apalagi uang hasil jerih payahnya, kelompok usia ini merasa banyak yang harus di beli, bahkan terkadang setiap hari ada saja penambahan-penambahan barang yang wajib untuk dimiliki.

Kita tentu masih ingat, saat kita menerima uang gaji kita yang pertama. Hati gembira sekali. Terutama karena kita merasa sudah menjadi manusia produktif yang tidak tergantung pada orangtua, bahkan bisa mulai membantu orangtua.

Maka tantangan pada kelompok usia ini adalah bagaimana menggunakan uang, karena:

  • Dalam kelompok ini, penggunaan uang yang tidak terkendali bisa mengakibatkan jatuh dalam problem keuangan berupa kebangkrutan, misalnya karena hutang kartu kredit.
  • Bila kelompok ini mulai merencanakan pensiun, maka dana pensiun akan lebih mudah tercapai, karena memulainya lebih dini.

Tentukan Tujuan
Pada kelompok usia ini, kita bisa siap membangun kesejahteraan masa depan, atau kita bisa lengah sehingga terlambat membangun kesejahteraan masa depan. Untuk siap, kita harus menentukan sebuah tujuan keuangan.

Contoh Tujuan Keuangan:

  1. Tujuan Jangka Panjang. Mempersiapkan dana pensiun yang cukup, tidak perlu bekerja keras seperti saat ini, dan tidak tergantung pada orang lain.
  2. Tujuan Jangka Menengah. Mempersiapkan Dana Pernikahan dan KPR Rumah / Ruko / Apartement pada 10 tahun ke depan.
  3. Tujuan Jangka Pendek. Memiliki mobil pribadi untuk transportasi bekerja, atau uang muka untuk mulai KPR dalam 3 tahun ke depan, jalan-jalan atau ziarah dalam 2 tahun ke depan.

Target pertumbuhan dan Strategi Investasi
Umpama Si Liza memiliki tujuan keuangan pensiun sejahtera yang nilainya minimum sama dengan kualitas hidupnya saat ini. Pengeluaran bulanan sekarang adalah Rp. 5 juta / bulan, atau Rp. 60 juta per tahun. Biasanya setelah pensiun, seseorang tidak lagi membutuhkan transportasi untuk ke tempat kerja sesering seperti sebelumnya. Maka Si Liza memperkirakan kebutuhan setahun adalah Rp. 50 juta.

Maka:
• Kebutuhan hidup Si Liza sekarang Rp. 50 juta /tahun (2010)
• Usia sekarang 25 tahun (2010), usia pensiun 55 tahun (2040), maka waktu akumulasi = 30 tahun.
• Inflasi 10% per tahun.
• Kebutuhan di tahun 2040 nanti = Rp. 872.470.133,- / tahun (Future Value selama 30 tahun dengan inflasi 10%) adalah setara dengan Rp. 50 juta pada tahun 2010 ini.
• Lama masa pensiun 15 tahun, sampai usia 70 tahun.
• Maka Total kebutuhan selama 15 tahun = 15x = Rp. 13.087.051.702,-

Wah, besar sekali Rp. 13 Milyar!!!! Bagaimana cara mencapainya? Apakah mungkin Si Liza mampu melakukannya?

Mari kita lihat Financial Model (Tabel A) di bawah ini, dengan waktu akumulasi 30 tahun, dan strategi investasi dengan asumsi pertumbuhan yang berbeda-beda:

Waktu Akumulasi: 30 tahun

TARGET: 13 MILYAR
Pertumbuhan:                         15%                         20%                      25%                        30%                 40%
Setoran Sekaligus: Rp 197.654.455   Rp 55.132.087  Rp 16.200.985   Rp 4.995.066  Rp 540.755
Tabungan Tahunan: Rp 26.176.359   Rp 9.227.554    Rp 3.244.213       Rp 1.153.148   Rp 154.508
Tabungan Bulanan:  Rp 1.866.960     Rp 560.214         Rp 159.647           Rp 44.007        Rp 3.154

Ternyata dalam rentang waktu 30 tahun:
• Dibutuhkan setoran sekaligus Rp. 197 juta bila pertumbuhan 15%, atau setoran sekaligus Rp. 55 juta bila pertumbuhan 20%, atau setoran sekaligus Rp. 16 juta bila pertumbuhan 25%,…. atau bahkan hanya Rp. 540 ribu, bila pertumbuhannya bisa 40% rata-rata setahun!!!
• Dibutuhkan setoran tabungan tahunan sebesar Rp. 26 juta bila pertumbuhan 15%, atau tabungan tahunan Rp. 9 juta bila pertumbuhan 20%, atau tabungan tahunan Rp. 3 juta bila pertumbuhan 25%, … atau bahkan hanya Rp. 154 ribu bila pertumbuhan mencapai 40% rata-rata setahun!!!
• Perhatikan setoran tabungan bulanannya!

Coba kita lihat Financial Model (Tabel B), yang menerapkan strategi investasi dengan asumsi pertumbuhan 20% tetapi waktu akumulasi yang berbeda-beda:

Pertumbuhan: 20%

TARGET: 13 MILYAR
Waktu Akumulasi:                   35                       30                            25                                 20
Tabungan Tahunan: Rp 3.698.987     Rp 9.227.554      Rp 23.106.596      Rp 58.417.662
Tabungan Bulanan:  Rp 207.456         Rp 560.214          Rp 1.517.039         Rp 4.139.534

Ternyata dalam pertumbuhan 20% rata-rata pertahun, untuk mendapatkan 13 milyar:
• Si Liza membutuhkan Tabungan Tahunan Rp. 9 juta bila waktu akumulasinya 30 tahun.
• Namun hanya membutuhkan Rp. 3.6 juta per tahun bila waktu akumulasinya menjadi 35 tahun.

Dari Tabel A dan Tabel B diatas, kita bisa lihat bahwa mereka yang memulai merencanakan pensiun lebih awal, akan lebih mudah. Mereka tidak perlu memaksakan diri mencari dan mencapai pertumbuhan yang tinggi, yang jelas akan lebih berisiko. Keuntungan dari ‘melakukan lebih awal’ adalah sangat bermakna.

Artinya, untuk mereka yang berusia muda, tidak perlu kuatir dengan angka pertumbuhan investasi yang HARUS mereka capai, justru karena usia yang masih muda, mereka mempunyai kekuatan, asalkan mereka mau memulainya lebih awal.

APA YANG MEMPENGARUHI PERENCANAAN KEUANGAN ANDA?

Keuangan Individu
Di dalam bidang-bidang studi mengenai keuangan pada umumnya, jarang ditemukan pembahasan yang khusus mengenai keuangan pribadi. Sepanjang saya mengajar di kelas, topik yang biasanya menarik bagi mahasiswa jurusan keuangan adalah bagaimana membuat keputusan-keputusan bagi suatu perusahaan, bagaimana melakukan investasi yang baik yang berisiko tinggi namun menghasilkan yield yang tinggi pula, serta bagaimana anggaran yang optimal ketika terjadi adanya konflik kepentingan antara si pengambil keputusan (manajer) dengan pemilik uang (shareholders).

Mungkin jarang terpikir oleh para mahasiswa bahwa keuangan individu memiliki nuansa yang sedikit berbeda dan unik untuk diteliti. Keputusan keuangan individu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kurang dikenal di dalam model-model keuangan perusahaan, yaitu faktor-faktor psikologis dan sosial. Padahal, semua keputusan keuangan perusahaan pun dihadapi oleh seseorang sebagai individu.

Contoh paling praktis adalah bayangkan seorang ibu yang harus menghidupi keluarganya untuk berjualan kue. Ibu tersebut harus melakukan keputusan dalam menganggarkan uangnya yang terbatas untuk makan sehari-hari, pendidikan anaknya, dan dana yang tiba-tiba dibutuhkannya bila anak-anaknya sakit. Di dalam keuangan perusahaan, ini disebut dengan penganggaran modal.

Ibu yang sama harus berjualan kue. Artinya ia menghadapi suatu keputusan untuk berinvestasi. Setiap hari ia harus membeli bahan-bahan kue seperti tepung, gula, dan telur. Berapa jumlah maksimal yang harus ia keluarkan untuk membeli bahan-bahan ini dengan mempertimbangkan laba yang akan ia peroleh. Ia pun harus menghitung dengan tepat berapa harga yang perlu ditawarkannya supaya kuenya laku. Ia juga harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan menyebabkan kuenya tidak laku. Para manajer keuangan menyebut ini sebagai investasi dan kebijakan harga.

Satu contoh lagi adalah ibu tersebut membutuhkan uang untuk meningkatkan penjualannya. Mungkin kendala yang ia hadapi adalah biaya pendidikan sekolah anaknya yang makin tinggi membuat jumlah kue yang dihasilkannya tiap hari tidak cukup lagi. Maka ia harus memilih beberapa alternatif seperti meminjam uang modal kepada saudara atau teman, meminjam uang ke bank-bank konvensional, atau mengharapkan modal dari bank syariah. Keputusan kredit ini juga merupakan satu bahasan yang sangat menarik di bidang keuangan perusahaan.
Lalu apa yang membuatnya menarik? Keuangan perusahaan dikelola oleh seorang manajer keuangan yang kerjanya adalah memelototi angka-angka dan memberikan pertimbangan-pertimbangan. Manajer keuangan tidak dihadapkan kepada hal-hal pemasaran yang dapat membuat asumsi-asumsi keuangan yang telah dibuatnya menjadi tidak berguna lagi. Manajer keuangan yang telah mengasumsikan bahwa penjualan tahun ini adalah 300.000 unit tidak bertanggungjawab ketika manajer pemasaran mengaku bahwa akibat adanya bencana alam, penjualan maksimal yang dapat diharapkan adalah 250.000 unit saja.

Manajer keuangan juga hanya menetapkan bahwa untuk memperoleh laba sekian, maka manajer bagian pembelian harus menekan harga pembeliannya sebanyak 25%. Ia tidak bertanggungjawab tentang bagaimana manajer pembelian melakukan hal tersebut, bagaimana manajer pembelian terpaksa memutuskan kontrak dengan supplier lama dan terpercayanya untuk memenuhi asumsi-asumsi keuangan yang telah ditetapkan.

Padahal, hal-hal seperti ini harus dihadapi oleh si ibu penjual kue. Bayangkan bila ia menetapkan bahwa harga pembeliannya harus diturunkan 25%. Bagaimana ibu tersebut harus mengatakan hal ini kepada kawan lamanya di pasar untuk menurunkan harganya? Bagaimana kawan lamanya itu akan memberitahu kepada penjual-penjual lainnya supaya tidak menjual bahan-bahan kue kepada si ibu?

Manusia Rasional vs. Manusia Psikologis
Di setiap ilmu ekonomi, termasuk ilmu keuangan, satu asumsi yang sangat sering didengung-dengungkan adalah asumsi bahwa manusia ekonomi/keuangan adalah manusia yang rasional. Semua tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang diambilnya didasarkan kepada berbagai pertimbangan yang rasional. Sebagai contoh, apabila seorang ibu rumah tangga akan membeli sekantung kue, maka ia akan membandingkan harga dan kualitas saja. Kue dengan harga terendah dengan kualitas terbaiklah yang akan dibelinya. Ibu tersebut sebagai pelaku ekonomi yang rasional akan mengabaikan pertimbangan bahwa salah seorang penjual kue tersebut adalah adik kandungnya atau teman baiknya.

Berbekal asumsi tersebut, maka berbagai model keputusan keuangan telah disodorkan oleh para akademisi. Salah satu yang paling menonjol adalah teori utilitas, yaitu setiap individu akan berusaha memaksimalkan utilitas (kepuasan) yang diperolehnya dengan cara yang sama dan hanya terbatas kepada anggaran yang dimilikinya. Secara lebih luas lagi, seluruh kegiatan bermasyarakat dan bernegara harus ditujukan kepada kepuasan maksimal dari semua individu anggota masyarakat dan negara tersebut.

Kemudian teori ini berevolusi dengan menyatakan bahwa kepuasan yang dirasakan atas suatu materi (misalnya secangkir kopi) berbeda antara individu dan individu lainnya. Dari kesadaran ini muncullah teori-teori yang mulai memperkenalkan perilaku individu yang berbeda-beda ke dasar asumsinya. Salah satu teori tersebut adalah Teori Sentimen Moral (Moral Sentiment Theory) dari Adam Smith.

Adam Smith menyatakan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu tidak hanya didasarkan kepada motif-motif ekonomis semata – yang mana menjadikan individu tersebut manusia rasional -, namun juga memiliki motif-motif moral seperti kasih sayang, iri hati, sentimen, rasa iba, dan sebagainya.

Teori yang juga berdampingan dengan Teori Sentimen Moral adalah Teori Prospek (Prospect Theory) yang ditemukan oleh Kahneman dan Tversky. Mereka menemukan bahwa individu memiliki kecenderungan perilaku yang berbeda terhadap kemungkinan rugi dan kemungkinan untung. Sebagai contoh, seorang individu diminta untuk memilih dua alternatif. Alternatif pertama adalah individu akan mendapat Rp 1 juta secara pasti. Alternatif kedua adalah individu memiliki probabilitas 50% untuk mendapatkan Rp 2,5 juta. Sebagian besar responden akan memilih alternatif A, padahal secara matematis, yang akan diperoleh responden dari memilih alternatif B adalah Rp 1.250.000 (lebih besar daripada Rp 1 juta pada alternatif A.).

Lebih lanjut, individu kembali disuruh memilih 2 alternatif, di mana alternatif A mengakibatkan kerugian pasti sebesar Rp 1 juta dan alternatif B memberikan kemungkinan 50% individu mengalami rugi sebesari Rp 2,5 juta. Responden cenderung memilih alternatif B, di mana sebenarnya secara matematis responden akan mengalami kerugian lebih besar. Akan tetapi di dalam alam bawah sadar, ada harapan bahwa ketika alternatif B yang dipilih, terdapat kemungkinan 50% mereka tidak mengalami kerugian sama sekali.

Lebih lanjut, Thaler menemukan teori Winner’s Curse yang terjadi apabila semua individu yang terlibat atau sebagian individu yang terlibat tidak rasional. Bayangkan suatu situasi di mana semua individu berkompetisi untuk memperoleh sesuatu yang memiliki suatu nilai, namun nilai aktualnya itu sendiri tidak diketahui oleh para individu yang terlibat. Beberapa individu akan menawar terlalu rendah, dan yang lainnya menawar terlalu tinggi. Akhirnya tawaran tersebut akan jatuh kepada penawar yang paling tinggi, sementara nilai barang itu sendiri kemungkinan kurang daripada nilai tawaran tersebut. Inilah yang disebut kerugian yang harus diderita oleh si pemenang (Winner’s Curse). Apabila semua individu yang terlibat rasional, maka jumlah tawaran tidak akan jauh berbeda daripada nilai aktualnya, sehingga si pemenang tidak mengalami kerugian terlalu besar.

Dengan banyaknya bukti yang menunjukkan bahwa manusia tidak rasional, maka tulisan ini difokuskan untuk menjabarkan beberapa faktor non ekonomis yang dapat mempengaruhi suatu keputusan keuangan pribadi.

Pertimbangan-pertimbangan dalam Keputusan Keuangan Pribadi
Di bawah ini akan dijabarkan mengenai pelbagai teori yang menerangkan apa saja faktor-faktor yang akan dipertimbangkan, serta bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi seorang individu ketika melakukan keputusan keuangan pribadi.

• Game Theory
Game Theory pertama kali dinyatakan oleh John Nash – si pemenang Nobel yang menderita Schizophrenia. Teori ini menyatakan bahwa keputusan yang dilakukan individu itu tergantung kepada ”permainan berkelompok” yang sedang dimainkannya bersama orang lain.

Contoh klasik teori ini adalah dua penjahat yang melakukan kejahatan secara bersama-sama – misalnya merampok bank – dan tertangkap lalu diinterogasi secara terpisah. Masing-masing penjahat diberikan pilihan untuk mengakui perbuatannya dengan janji keringanan hukuman bagi yang mengaku dan hukuman yang lebih berat bagi yang tidak mengaku. Ada 3 (tiga) skenario yang mungkin terjadi di dalam situasi ini, yaitu:

  1. Kedua penjahat berkoordinasi dengan baik dan tidak mengaku. Hasilnya menguntungkan bagi kedua penjahat, yaitu lepas dari hukuman.
  2. Salah satu penjahat mengaku dan mendapat keringanan hukuman, sementara yang lainnya mendapat hukuman yang berat/ setimpal
  3. Kedua penjahat mengaku dan hasilnya merugikan bagi keduanya, yaitu keduanya sama-sama dihukum berat (tidak ada yang mendapat keringanan hukuman karena polisi mendapatkan pengakuan dari keduanya)

Teori ini meng-ekplanasi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan keuangan kita, yaitu kebutuhan untuk berkoordinasi dengan orang lain atau kelompoknya. Bayangkan situasi di mana Anda harus memutuskan untuk membayar “iuran terlambat datang” yang baru saja dikeluarkan oleh Kepala Sekolah dan sedang didemo oleh seluruh teman-teman sekolah Anda. Tidak membayar pajak berarti Anda tidak menaati peraturan yang dikeluarkan kepala sekolah. Sebaliknya bila Anda membayarkan pajak itu, maka Anda tidak bertenggangrasa dengan teman-tema Anda dan akan mendapatkan hukuman sosial, misalnya dikucilkan. Efek samping lainnya adalah pembayaran pajak Anda dapat dijadikan simbol oleh Kepala Sekolah bahwa memang iuran tersebut memang pantas dan protes para demonstran akan diabaikan sama sekali. Sisi positifnya, apabila Pak Kepala Sekolah akhirnya mengambil tindakan tegas dengan memberikan penalti kepada para demonstran, Anda akan terlepas dari hukuman tersebut.

Jadi keputusan keuangan Anda akan dipengaruhi oleh strategi Anda untuk berkoordinasi dengan orang-orang lain di sekitar Anda. Anda akan mempertimbangkan bagaimana reaksi orang lain dalam menghadapi situasi yang sama, dan keuntungan yang didapat apabila Anda melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

• The Ultimatum Game
Rubenstein – si penemu permainan ini – menyatakan teorinya bahwa di dalam situasi tawar menawar terdapat faktor-faktor non-rasional misalnya kekhawatiran bahwa pihak lain akan memiliki perspektif yang berbeda karena nilai yang ditawarkan pihak pertama.

Bayangkan suatu situasi di mana Anda telah ditemani berjalan-jalan oleh salah seorang teman dari teman Anda yang praktis Anda tidak kenal sebelumnya. Pemandu Anda tersebut telah mengambil cuti satu harian khusus untuk menemani Anda, dan Anda merasa Anda ingin memberikan sesuatu sebagai imbalan itikad baiknya. Apa yang akan Anda lakukan? Bila Anda memberikannya uang, berapa jumlahnya? Bila jumlah yang Anda tawarkan terlalu besar, Anda khawatir ia akan sakit hati karena mungkin menurutnya ia menemani Anda karena memang ia ingin. Kalau jumlahnya terlalu kecil, Anda khawatir Anda dinilai pelit olehnya. Padahal bila keduanya bersikap rasional, Anda tinggal menanyakan berapa jumlah yang diinginkan olehnya.

Eksperimen yang dilakukan oleh Güth, Schmittberger dan Schwarze mengenai topik ini telah disimpulkan demikian: manusia takut akan hukuman – baik hukuman secara ekonomis maupun sosial – yang mungkin akan diperolehnya apabila ia memberikan ultimatum tertentu yang kurang sesuai kepada pihak lain.

• Greed or Fear
Banyak keputusan keuangan didasarkan kepada kecenderungan untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya (greed) atau kekhawatiran akan mengalami kerugian yang besar (fear). Suatu eksperimen dilakukan pada kelompok yang terdiri dari 10 orang. Fasilitator membagikan $5 kepada masing-masing peserta. Aturan mainnya ditetapkan sebagai berikut: Suatu jumlah uang tertentu harus dikumpulkan (katakanlah $ 30). Bila kelompok tersebut berhasil mengumpulkan uang sejumlah tersebut, maka setiap orang akan mendapatkan masing-masing $10 tambahan. Artinya, orang yang memberikan uangnya akan pulang dengan $10, dan orang yang tidak memberikan uangnya (free rider) akan pulang dengan $15 ($10 + $5 awal). Apabila jumlah $30 tidak terkumpul, maka orang yang telah membayarkan uang pulang dengan tangan kosong, sementara yang tidak membayar, pulang dengan $5. Peserta tidak boleh berkomunikasi dengan sesamanya.

Peneliti pada eksperimen ini menyatakan bahwa ada 2 (dua) motif yang muncul ketika seorang peserta tidak membayar (berkontribusi). Yang pertama adalah kekhawatiran (fear) bahwa tidak cukup banyak orang yang membayar sehingga ia akan pulang dengan tangan kosong. Yang kedua adalah keserakahan (greed), di mana peserta tersebut berhadap ada cukup banyak orang lain yang berkontribusi, sehingga ia dapat membawa pulang uang yang lebih banyak.

Motif serakah dan khawatir rugi ini menciptakan orang-orang yang kemudian disebut dengan free rider, yaitu yang menikmati keuntungan tanpa memiliki kontribusi terhadap mesin pencipta keuntungan itu sendiri. Contoh paling mudah adalah pajak. Pajak yang dikumpulkan dari para wajib pajak yang menyisihkan 10 – 35% pendapatannya dialokasikan untuk berbagai infrastruktur negara yang digunakan oleh semua orang, baik wajib pajak maupun non wajib pajak. Non wajib pajak disebut dengan free-rider. Makin banyak free-rider, maka makin banyak kontribusi yang harus dibayarkan oleh non-free-rider.
• Mental Accounting
Seorang lelaki sedang berada di Las Vegas (yang terkenal sebagai kota judi Amerika) untuk menghadiri seminar. Pada malam hari, ia pamit kepada teman sekamarnya untuk mencoba mesin-mesin di Las Vegas sebagai tambahan pengalaman karena tidak pernah menemukan mesin-mesin itu di Indonesia. Ia hanya membawa uang $5 dan menuju ke mesin jackpot. Pada percobaan pertama, mesin jackpot tersebut langsung “hit” dan memuntahkan $25 untuknya. Lelaki itu mencoba mesin-mesin jackpot lainnya, dan karena malam itu malam keberuntungannya, ia kembali “hit” di mesin-mesin lainnya dan berhasil mengumpulkan $2.500.

Kemudian ia mencoba peruntungannya di meja blackjack (permainan kartu) dan mempertaruhkan seluruh keberuntungannya sejumlah $2.500 di permainan pertama dan memenangkan $10.000. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia menjadi $1.000.000 (satu juta dolar). Kemudian ia berpindah ke meja rolet dan kembali mempertaruhkan seluruh uangnya ($1 juta). Di meja itu, uangnya ludes dan ia kembali ke kamar hotelnya. Temannya bertanya, bagaimana keberuntungannya, dan jawabannya adalah, “Lumayan, aku kalah $5.”

Contoh di atas menunjukkan bahwa ketika jumlah uang tidak tertulis di kertas dan hanya tertulis pada “mental” seeorang, uang tersebut menjadi tidak bernilai.

Oprah’s Show – sebuah talkshow paling populer di Amerika – pernah menayangkan seorang pengemis yang menemukan uang $100.000. Sebagai orang yang telah bekerja keras dan memiliki uang, Oprah berpikir bahwa lelaki itu pasti akan menaruh uangnya di bank, mengambil bunganya setiap bulan dan hidup lumayan dengan bunga tersebut. Itu juga yang dipikirkan para penontonnya. Pengemis tersebut kemudian mengakui bahwa ia membeli dua buah mobil – satu untuk dirinya dan satu untuk istrinya – dan menghabiskan $70.000. Sisanya ia gunakan untuk pulang ke kampung halaman dan membagikannya kepada sanak saudara untuk menunjukkan bahwa akhirnya ia memiliki uang dan sanaknya tidak boleh menghinanya lagi. Dalam waktu kurang dari setahun, uang itu ludes berikut kedua mobilnya dan ia kembali mengemis di jalanan.

Suatu eksperimen menunjukkan bahwa ada perbedaan perilaku yang mencolok pada dua orang dari kelas ekonomi yang berbeda ketika menghadapi kenyataan bahwa mereka telah diberi uang “dadakan” dengan jumlah yang cukup besar, katakanlah Rp 10 juta. Orang yang memiliki gaji Rp 10 juta / bulan akan menabungkan uang tersebut atau menginvestasikannya dengan baik. Sebaliknya orang yang berpenghasilan Rp 500.000/bulan akan membelikan berbagai barang dan berakhir dengan kekayaan yang kurang dari sebelumnya. Orang kedua ini akan selalu merasa bahwa uang tersebut sangat banyak dan tidak akan habis berapapun ia mengeluarkannya, dan pada akhirnya ia menghabiskannya bahkan melebihi jumlah Rp 10 juta tersebut.

Pada kasus ini, faktor psikologis sangat menentukan kepada keputusan keuangan seseorang.
Keputusan keuangan individu secara garis besar memang tidak berbeda dengan keuangan perusahaan. Individu harus tetap menganggarkan uangnya, harus melakukan investasi, dan harus memutuskan kebijakan kredit yang paling sesuai.

Keputusan yang akhirnya diambil oleh individu kemudian berbeda dengan yang diambil oleh manajer keuangan karena individu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan sosial. Di dalam berbagai teori pada tulisan ini ditemukan bahwa seorang individu dipengaruhi oleh keserakahan, kekhawatiran akan kerugian, ketakutan akan hukuman, serta pertimbangan bagaimana orang lain akan bertindak. Selain itu, nilai uang di dalam pikiran berbeda dengan nilai uang ketika dituliskan di atas kertas atau laporan keuangan. Nilai uang di dalam pikiran bersifat sangat fleksibel dan tidak mudah untuk memastikan bagaimana individu kemudian bereaksi atas jumlah tersebut.

Tips Menglola Keuangan

1.Utang

Dengan cara mengurangi utang konsumtif dan utang non-produktif. Sebisa mungkin utang hanya 30% dari penghasilan utama rutin. Tapi, bagi yang sudah menikah, penghasilan utama bukanlah penggabungan dari penghasilan suami-istri.

utamakan penghasilan suami sebagai penghasilan utama, karena wanita cenderung memiliki kondisi yang mengakibatkan harus berhenti kerja tiba-tiba, seperti hamil, melahirkan, dan sebagainya. Namun bila penghasilan suami masih belum cukup, bisa digabungkan dengan penghasilan istri. Dan apabila masih ada sisa dana, kelebihan dana sisa itu bisa dijadikan investasi.

2. Nilai Kekayaan Bersih (net-Worth)

Nilai kekayaan bersih harus positif. Cara menghitungnya, yakni dengan mengurangi jumlah aset dan utang. Aset merupakan barang yang kita beli saat ini bila dijual beberapa tahun mendatang masih sangat bernilai, masih di atas 50% dari harga semula.

3. Alur Kas / Alur Dana (Cash Flow)

Alur kas atau dana harus positif. Dihitung dengan cara mengurangi penghasilan dengan pengeluaran. kalau hasilnya negatif, maka harus diketahui penyebabnya. Jika pengluaran sudah tidak bisa dibatasi atau dihentikan lagi, berarti kesalahan ada di penghasilan. Maka, cobalah mencari alternatif penghasilan tambahan melalui kerja sampingan. Kuncinya, JANGAN GENGSI!

4. Dana Darurat

Dana darurat merupakan sutau dana yang dialokasikan secara terpisah untuk memenuhi kebutuhan yang sangat darurat atau terpaksa. Perlu diperhatikan, seseorang atau suatu keluarga tidak diperbolehkan berinvestasi yang bersifat jangka panjang sebelum memiliki simpanan sedikitnya satu sampai tiga bulan tabungan dana darurat.

Bagi yang masih lajang dan tidak memiliki tabungan, minimal harus mempunyai simpanan sebanyak tiga bulan gaji. Bagi yang sudah berkeluarga atau memiliki tanggungan dua orang, minimal harus memiliki simpanan enam bulan gaji. Sementara bagi yang memiliki tanggungan lebih dari dua orang harus memiliki minimal 12 bulan gaji.

5. Asuransi

Asuransi juga memiliki andil yang besar, khususnya asuransi kesehatan. Jika dari tempat kerja tidak ada asuransi, maka dianjurkan untuk membeli asuransi dari tempat lain. Seperti diketahui, kesehatan itu mahal. Selain asuransi kesehatan, penting juga untuk mengasuransikan aset.

Sementara untuk asuransi jiwa tidak begitu diperlukan. Bagi yang masih lajang, kelebihan dana sebaiknya diinvestasikan saja. Namun bagi yang sudah berkeluarga, asuransi jiwa cukup dibutuhkan untuk penunjang kehidupan anak dan istri nantinya.

6. investasi

Dana investasi dianjurkan dipisahkan sesuai masa kebutuhannya. Untuk jangka pendek (lebih dari 1 tahun), bisa berinvestasi melalui tabungan, deposito, dan emas. Untuk jangka menengah (satu hingga lima tahun), investasi bisa berupa emas. Sementara untuk jangka panjang (lebih dari lima tahun), bisa dengan cara membuka bisnis atau berinvestasi saham, sukuk, reksadana, dan sebagainya.

Sekedar informasi, investasi emas atau logam mulia bisa berlaku untuk semua jangka, baik jangka pendek, menengah, dan panjang. Investasi logam mulia atau emas batang bersertifikat bisa disebut sebagai investasi paling aman dan mudah. Alasannya, kenaikan nilai emas bisa mencapai 15-20% persen per tahun dan inflasinya pun stabil.

Untuk bekal pensiun nantinya, sebaiknya mulai sejak saat ini anggarkan total penghasilan dengan merinci sebanyak :

  • 30% untuk biaya hidup
  • 30% untuk membayar cicilan atau utang, dan
  • 30% untuk berinvestasi.

Jadi, jangan tunda lagi, mulailah sekarang juga. Susun sebuah perencanaan keuangan, mulailah dengan memutuskan sebuah tujuan.

Sumber : rowenasuryobroto.multiply, hendrihartopo.info, voila.web.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: