Film Berpadu dengan Mode

Film Berpadu dengan Mode

FILM dan mode memiliki affair mesra. Hubungan keduanya terjalin, bahkan lebih erat ketimbang kolaborasi di atas karpet merah. Film memberi inspirasi pada dunia mode dan begitu pula sebaliknya.

Dalam sebuah wawancara, Jason Wu pernah mengatakan bahwa film dan mode punya hubungan yang erat lagi unik.

“Keduanya saling terkait.Film sering kali menjadi inspirasi desainer dalam menghadirkan koleksi baru, dan di dalam film, mode menjadi bagian dari jalan cerita,” papar Wu.

Hubungan Wu dengan dunia film didapatnya dari pengalaman “berakting” di film dokumenter mode, September Issue. Pada film tersebut, Wu dianggap sebagai desainer muda berbakat oleh Sang Ratu Mode Anna Wintour, pemimpin redaksi Vogue Amerika.

“Saya merasa, berada dalam film itu merupakan pengalaman yang begitu sureal, pengalaman yang ikut membangun karier saya saat ini,” sambung desainer asal Taiwan tersebut.

Jika, bagi Wu, film menjadi salah satu kendaraan yang mendorong kariernya, maka bagi banyak insan film, mode adalah cara mereka bertutur. Sebut saja Sex and The City, film yang bercerita tentang kisah empat wanita sukses yang hidup di New York.

Kendati bukan merupakan film dokumenter mengenai mode seperti layaknya September Issue, Sex and The City melibatkan banyak desainer dan rumah mode kenamaan.

Beberapa di antaranya Vivienne Westwood, John Galliano untuk Dior, Chanel, Oscar de la Renta, Versace, hingga desainer sepatu kenamaan, Manolo Blahnik, dan Christian Louboutin.

Sebaliknya, film juga bisa menjadi sumber inspirasi desain, seperti yang terjadi pada film Avatar. Desainer New York Jen Kao mengaku Avatar membuatnya sangat terinspirasi sehingga menontonnya berkali-kali sebelum kemudian melahirkan koleksi penuh warna untuk show-nya di New York Fashion Week.

Tak hanya Kao, couturier Prancis Jean Paul Gaultier pun terpesona Avatar untuk koleksi adibusananya di Paris Haute Couture. Begitu juga dengan rumah mode Valentino yang menghadirkan koleksi etherial di catwalk Paris.

Pesona Avatar tidak berhenti pada desainer, juga menyelusup hingga majalah mode untuk edisi Maret 2010, Vogue Amerika, menghadirkan fashion spread bertema “Avatar”.

Hubungan antara film dan mode memang sudah lama terjalin, tetapi hubungan keduanya tidak langsung terbangun erat, melainkan “putus-sambung”. Di beberapa film, mode terasa kental.

Sementara di banyak film, mode hanyalah sekadar pelengkap untuk menunjukkan garis waktu atau era dalam cerita. Namun, beberapa tahun ke belakang, film dan mode menjalin hubungan yang lebih mesra.

Jalinan yang jauh lebih erat daripada sekadar gaun-gaun para desainer yang membalut tubuh selebriti di karpet merah.

Mode dalam film tidak lagi sekedar “pemanis” para pemerannya, melainkan keluar dari layar lebar dan memengaruhi gaya busana penontonnya. Namun, Direktur Kreatif Barneys New York Simon Doonan punya pendapat yang berbeda.

“Menurut saya, mode dan film tidak berhubungan. Kalaupun ada, hubungan yang benar-benar erat antara keduanya sangatlah jarang. Tidak ada film yang benar-benar memengaruhi mode dan sebaliknya, jarang ditemukan film yang benar-benar menceritakan tentang mode,” paparnya kepada New York Times.

Kontras dengan Doonan, Jess Wood, editor mode Marie Claire menyebutkan hubungan antara mode dan film justru telah terjalin sejak lama.

“Sejak zaman keemasan Hollywood pada tahun 1940-an, ketika desainer kostum legendaris Edith Head menghadirkan koleksi busana yang memperindah layar lebar, film dan mode telah menjadi ‘partner’ yang sejajar,” sebutnya.

Kaitannya dengan Hollywood, menurut Doonan, jika ditelusuri, hubungan yang mendekati erat antara film dan mode berkisar pada tahun 1970 dan 1980-an, ketika itu garmen dan peritel memproduksi busana berdasarkan apa yang sedang tren di Hollywood.

Film Bonnie and Clyde (1967) memopulerkan gaya berbusana ekspresif sekaligus seksi lewat rok-rok mini dan jaket kulit. Sementara Diane Keaton di film Annie Hall (1977) memberi inspirasi gaya busana preppy chicandrogyny yang banyak ditiru kaum muda pada era 1970-an.

Adapun Meryl Streep di Out of Africa (1985) menghadirkan gaya safari nan chic yang terus bertahan hingga kini.

“Tanpa film Breakfast at Tiffany’s dengan Audrey Hepburn yang terlihat memikat mengenakan little black dress, bisa dikatakan pamor Hubert de Givenchy tidak akan seterkenal sekarang. Karena itu, tidak heran bila desainer senang berkolaborasi dengan dunia film,” tutur Wood.

“Film adalah sumber inspirasi visual yang konstan,” ujar desainer John Bartlett, yang mengaku dirinya sering kali terinspirasi film Grey Gardens, American Gigolo, The Thomas Crown Affair, dan Bonnie and Clyde.

Dan, bagi para pelaku mode, film pun bisa menjadi media iklan yang kuat. Sebut saja Giorgio Armani yang terang-terangan mengiklankan “Giorgio Armani for Bruce Wayne” dengan poster besar bergambar Daniel Craig (pemeran Bruce Wayne) saat film The Dark Knight dirilis.

Sepatu Manolo Blahnik laris manis berkat film dan serial Sex and The City. Begitu pula dengan pernak pernik dan gaya khas East Upsider di serial Gossip Girl.

Sumber : lifestyle.okezone.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: